‘Sawah’ yang Terlanjur Digarap Dituntut, Mempelai Pria Dibui

oleh -259 views
BRIKNEWS-Karena orang tua mempelai pria ingkar janji, membayar mahar yang sudah disepakati dengan keluarga mempelai wanita, ‘sawah’ yang sudah terlanjur digarap pun dituntut. Alhasil, mempelai pria harus mempertanggungjawabkannya dengan mendekam di balik jeruji besi. Setelah orangtua mempelai wanita melaporkan mempelai pria ke pihak yang berwajib.
Mempelai pria berinisial AZ (20), warga Desa Gunung Payung Kecamatan Lumut Kabupaten Tapteng, Sumatera Utara. Sementara mempelai pria sebut saja Melati (15), masih dikategorikan anak dibawah umur, warga jalan Sibual-buali, Kelurahan Huta Tonga-tonga, Kecamatan Sibolga Utara.
Dari hasil pemeriksaan pihak Polres Sibolga, kejadian bermula saat Melati mendatangi kos AZ didaerah Tukka sekitar Februari yang lalu. Saat itu, Melati mengaku sedang berselisih dengan orangtuanya dan tidak ingin pulang. Setelah mendengar keluhan kekasihnya tersebut, AZ pun membawa Melati ke rumah orangtuanya. “Kejadiannya, Senin (4/2), tersangka membawa Melati ke rumah orangtuanya. Tiba di rumah orangtuanya, orangtuanya malah marah kepada tersangka (AZ). Kemudian, tersangka menerangkan bahwa ibu Melati satu marga dengan ibu tersangka, sehingga Melati diijinkan tinggal,” kata Kapolres Sibolga AKBP Edwin Hariandja, dalam keterangan persnya melalui Kasubbag Humas Iptu Ramadhansyah Sormin, Selasa (11/6).
Keesokan harinya lanjut Sormin, AZ membawa Melati ke rumah keluarganya di Pinangsori. Beberapa hari kemudian, Melati menghubungi AZ melalui telepon genggamnya, meminta agar AZ menjemputnya dan membawanya kembali ke rumah orangtuanya. “Sabtu (9/2) sekira pukul 8.00 WIB, Melati dijemput dan dibawa kembali ke rumah orangtua tersangka,” ungkapnya.
Melihat kedatangan Melati, lag-lagi orangtua tersangka marah. Saat itu, orangtua tersangka mencoba meminta nomor telepon orangtua Melati yang dapat dihubungi. Karena HP Melati rusak, tersangka dan Melati kemudian pergi ke Pinangsori menemui teman Melati, untuk meminta nomor HP orangtuanya,” terang Sormin.
Ditengah perjalanan, pasangan kekasih tersebut ketemu dengan Paman tersangka, yang kemudian mengajak keduanya ke rumahnya. “Kebetulan, rumah teman Melati dekat dengan rumah Paman tersangka ini. Sorenya, mereka baru pulang ke rumah orangtua tersangka,” katanya.
Tak sampai disitu, keesokan harinya, Minggu (10/2) sekira pukul 9.00 WIB, orangtua tersangka bersama dengan orangtua Melati dan temannya mengadakan pertemuan di rumah Paman tersangka. Dalam pertemuan tersebut, orangtua Melati membuat pilihan kepada pihak keluarga AZ, menikahi Melati atau dilaporkan ke Polisi. Saat itu, tersangka mengaku belum sanggup untuk menikahi Melati. “Namun, orangtua Melati bersikeras agar anaknya dinikahi. Karena tersangka tidak sanggup, orangtua Melati akhirnya menitipkan Melati di rumah Paman tersangka,” terang Sormin.
Beberapa hari kemudian, Paman tersangka mendatangi orangtua Melati untuk membicarakan kembali hubungan AZ dan Melati. Saat itu, orangtua Melati meminta mahar sebesar Rp60.000.000. Awalnya, sempat terjadi tawar menawar mahar sebelum akhirnya disepakati mahar Melati sebesar Rp10.000.000 ditambah 1 ekor hewan peliharaan. “Janji nya, Selasa (19/2) pihak keluara tersangka akan mengantarkan 1 ekor hewan peliharaa. Sementara mahar Rp10 juta akan diserahkan tanggal 24 April,” ungkapnya.
Setelah terjadi kesepakatan, orangtua AZ kemudian menggelar syukuran di kampung tersebut. Pertanda bahwa keduanya telah sah menjadi suami istri. Beberapa hari.kemudian, orangtua Melati mendatangi rumah tersangka, menuntut mahar yang sudah dijanjikan. Karena orangtua Melati tidak sanggup menepati janjinya, orangtua Melati akhirnya melaporkan mempelai pria kepihak yang berwajib karena telah menggarap ‘sawah’ Melati, yang masih dibawah umur. “Tersangka dan Melati belum.menikah secara sah di Gereja. Dari hasil visum et repertum, Melati sudah tidak perawan lagi,” pungkasnya.
Kini, tersangka ditahan di RTP Polres Sibolga dan untuk proses selanjutnya, pihak Polres Sibolga akan melimpahkan kasus tersebut ke Polres Tapteng. Sebab, TKP berada diwilayah hukum Polres Tapteng. Tersangka dalam hal ini, dijerat dengan pasal 76 D UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan pasal 332 dari KUHPidana. Dengan ancaman hukuman 9 tahun. (ril)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *