Kapal Bom Marak di Perairan Sibolga-Tapteng

oleh -251 views
Bom ikan

BRIKNEWS – Penangkapan KM. Cahaya Nauli oleh Satuan Polisi Airud Belawan Sumatera Utara mendapat tangkapan dari para nelayan tradisional.

Mereka menduga bahwa KM. Cahaya Nauli bukan kapal ikan yang menggunakan jaring Muroami atau Gurami, sebutan nelayan Sibolga-Tapteng.

Melainkan, kapal ikan yang menggunakan bahan peledak alias bom. OLeh karena itu, aparat diminta agar tidak berhenti sampai di KM. Cahaya Nauli saja. Karena kini, kapal bom marak di perairan Sibolga-Tapteng.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua KNTM Sibolga-Tapteng, Immat Lubis saat di temui di kantornya di Sibustak Bustak yang berada dijalan KH. Ahmad Dahlan, kelurahan Aek Habil, kecamatan Sibolga Selatan, hari Sabtu (7/7). S

dia menjelaskan kalau jaring Muroami sering dijadikan tameng oleh pemilik kapal Bom. Dengan berpura-pura membawa jaring diatas kapal, agar kapal bisa lewat dari pintu masuk perairan Sibolga-Tapteng.

“Jaring Muroami, dalam permen 71/2016, itu salah. Kadang itu hanya modus, katanya dia memakai jaring Gurami padahal pakai bom. Hanya modus jaring dibuat di kapal. Kapal yang ditangkap beberapa hari yang lalu bisa jadi kapal bom.

Karena kebanyakan kapal yang memakai jaring Gurami adalah kapal bom. Sekarang ini marak kapal bom, sekitar 5 sampai 6 bulan terakhir ini,” kata Immat.

Dia memperkirakan ada puluhan kapal Bom yang beroperasi saat ini di perairan Sibolga-Tapteng. Dan itu sangat mengganggu bagi nelayan tradisional.

menurut Immat, hal yang paling dirugikan dalam pemakaian bahan peledak dalam menangkap ikan adalah rusaknya biota laut, yang merupakan warisan kepada anak cucu kelak.

“Ada mesin diesel dan ada yang speed boat GT 5, GT 6 dan GT 7. Kalau perkiraan lebih dari 10 kapal yang beroperasi. Kalau bagi nelayan tradisional, kapal bom sangat mengganggu apalagi terhadap nelayan pancing.

Juga terhadap kelestarian laut, biota laut dan terumbu karang, mati. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, itu sudah dilarang, pemakaian putasium, bom dan tuba. Apalagi sekarang,” ketusnya.

Ada beberapa modus yang dilakukan para nelayan kapal Bom dalam beroperasi. Diantaranya, dengan menyamar sebagai nelayan tradisional hinggal bekerjasama dengan oknum petugas.

“Artinya, dalam sindikat ini, ada keterlibatan petugas, paling tidak sebagai backing. Modusnya, ada yang menyerupai nelayan kecil, sehingga keluar masuk, bisa,” ungkap Immat.

Tak hanya itu, hal yang paling mengejutkan dikatakan tokoh nelayan yang dikenal vokal ini, beroperasinya kapal bom merupakan kelalaian petugas. Karena, dari informasi yang dia ketahui, tidak satupun kapal bom yang memiliki dokumen resmi.

“Dan ini jelas kelalaian daripada petugas. Kapal yang keluar masuk di pintu masuk perairan Sibolga, kalau ada mencurigai, tangkap.

Kadang yang bongkar di tangkahan, memang kalau diperiksa, tidak ada barang bukti. Tapi, ikan hasil tangkapan mereka itu sudah bisa jadi barang bukti. Ciri-cirinya yang jelas, perut ikan atau bagian dalamnya itu pecah.

izin, gak ada pakai izin mereka. Mereka berangkat tanpa dokumen. Palinglah pas kecil. Kalau tercantum disitu alat tangkap, kalau jeli petugas, kalau katanya alat tangkapnya jaring, mana jaringnya.

Kalau alat tangkapnya pancing, mana bukti pancingnya. Kalau pun ada ikannya, baik, belah ikannya. Kalau perutnya pecah, berarti kapal bom. Gak ada ceritanya, ikan hasil pancingan perutnya pecah,” pungkasnya sembari menyebutkan beberapa nama tangkahan yang punya kapal bom.

Dari mulai daerah Ancol hingga beberapa tangkahan disepanjang jalan KH. Ahmad Dahlan.

Mewakili nelayan tradisonal Sibolga-Tapteng, Immat hanya berpesan kepada aparat terkait, bahwa laut merupakan sawah dan ladang masyarakat. Jadi, bila laut hancur akibat bom, maka secara otomatis, ekonomi masyarakat juga akan mati.

“Harapan, tinggal harapan. Kadang, peraturan itu bagus dari atas, tapi dibawah itu yang rusak. Karena sawah ladang kami di sibolga ini adalah laut. Tidak ada sawah, tidak ada ladang. Andaikan terumbu karang hancur, mau bagaimana Sibolga ini. Sudah sering saya bilang, tolong pak, tegakkan peraturan,” pungkasnya. (rif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *